Letak
Geografi
Propinsi
Sulawesi Tengah terletak diantara 2° 22’ Lintang
Utara dan 4° 48’ Lintang Selatan serta 119°
22’ dan 124° 22’ Bujur Timur.
Batas-Batas
Wilayah
Propinsi
Sulawesi Tangah yang dibentuk dengan Undang-Undang nomor 13
tahun 1964 terdiri dari wilayah daratan 68.033,00 Km2 dan
wilayah lautan 189.408,00 Km2. Secara administratif Sulawesi
Tengah dibagi dalam 9 (sembilan) kabupaten, 1 (satu) kota
madya dengan 85 kecamatan serta 1300 desa dan 132 kelurahan
91.432 desa/kelurahan.
Topografi wilayah
daratan diklasifikasikan sebagai berikut:
1.
Lahan Pertanian |
: |
673.759 Ha (10,56%) |
2.
Hutan Lindung |
: |
1.764.720 Ha (21,71%) |
3.
Hutan Suaka Wisata |
: |
604.780 Ha (9,49 %) |
4.
Hutan Suaka Tetap |
: |
422.809 Ha (33,64 %) |
5.
Hutan Produksi yang dapat di konversi |
: |
241.757
Ha (3,80 %) |
6.
Lahan Pemukiman |
: |
519.757 Ha (8,16%) |
Berdasarkan
elevasi (ketinggian dari permukaan laut) dataran di Propinsi
Sulawesi Tengah terdiri dari:
| a.
0 - 100 M |
=
20,2 % |
| b.
101 - 500 M |
=
27,2 % |
| c.
501 - 1000 |
=
26,7 % |
| d.
1.001 M keatas |
=
25,9 % |
Jarak
antara ibukota propinsi ke daerah kabupaten:
No |
Jarak
Antara |
Kilometer |
1 |
Palu
- Poso |
221
Km |
2 |
Palu
- Luwuk |
607 Km |
3 |
Palu
- Toli-Toli |
439
Km |
4 |
Palu
- Donggala |
34
Km |
5 |
Palu
- Parigi Moutong |
66
Km |
6 |
Palu
- Morowali |
756
Km |
7 |
Palu
- Buol |
806
Km |
8 |
Palu
- Tojo Unauna |
300
Km |
Daratan
Sulawesi
merupakan pulau terbesar kelima di Indonesia setelah Papua,
Kalimantan dan Sumatera dengan luas daratan 227.654 kilometer
persegi. Bentuknya yang unik menyerupai bunga mawar laba-laba
yang membujur dari utara ke selatan dan tiga semenanjung yang
membujur ke timur laut, timur dan tenggara. Pulau ini dibatasi
oleh Selat Makasar di bagian barat dan terpisah dari Kalimantan
serta dipisahkan juga dari Kepulauan Maluku oleh Laut Maluku.
Pemerintahan
di Sulawesi dibagi menjadi lima propinsi yaitu propinsi Sulawesi
Utara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo.
Sulawesi Tengah merupakan propinsi terbesar dengan luas wilayah
daratan 68,033 kilometer persegi dan luas laut mencapai 189,480
kilometer persegi yang mencakup semenanjung bagian timur dan
sebagian semenanjung bagian utara serta Kepulauan Togean di
Teluk Tomini dan pulau-pulau di Banggai
Kepulauan di Teluk Tolo. Sebagian besar daratan di propinsi
ini bergunung-gunung (42.80% berada di atas ketinggian 500
meter dari permukaan laut) dan Katopasa adalah gunung tertinggi
dengan ketinggian 2.835 meter cari permukaan laut.
Sulawesi
Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang
yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan
sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata
terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.
Sulawesi
Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka
alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan
flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek penelitian bagi
para ilmuwan dan naturalis.
Ibukota
Sulawesi Tengah adalah Palu.
Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai
Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.
Penduduk
Penduduk
asli Sulawesi Tengah terdiri atas 12 kelompok etnis atau suku,
yaitu:
- Etnis Kaili
berdiam di kabupaten Donggala dan kota Palu
- Etnis Kulawi
berdiam di kabupaten Donggala
- Etnis Lore
berdiam di kabupaten Poso
- Etnis Pamona
berdiam di kabupaten Poso
- Etnis Mori berdiam
di kabupaten Morowali
- Etnis Bungku
berdiam di kabupaten Morowali
- Etnis Saluan
atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
- Etnis Balantak
berdiam di kabupaten Banggai
- Etnis Banggai
berdiam di Banggai Kepulauan
- Etnis Buol mendiami
kabupaten Buol
- Etnis Tolitoli
berdiam di kabupaten Tolitoli
- Etnis Tomini
mendiami kabupaten Parigi Moutong
Disamping 12 kelompok etnis, ada beberapa suku terasing hidup
di daerah pegunungan seperti suku Da'a di Donggala, suku Wana
di Morowali, suku Seasea di Banggai dan suku Daya di Buol
Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar
22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan
yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama
lain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
dan bahasa pengantar sehari-hari.
Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran
seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara
Timur dengan masyarakat Bugis dan Makasar serta etnis lainnya
di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur. Jumlah
penduduk di daerah ini sekitar 2.128.000 jiwa yang mayoritas
beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat
toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong
yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Pertanian
merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi
sebagai tanaman utama. Kopi, kokoa dan cengkeh merupakan tanaman
perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan,
beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang
merupakan andalan Sulawesi Tengah.
Masyarakat
yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping
pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan
hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya
masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara
untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih,
beras, telur dan tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam
bambu.
Budaya
Sulawesi
Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun temurun.
Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya
yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk
dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.
Karena
banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat
pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan
kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal
di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur
dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi
Selatan dan masyarakat Gorontalo.
Ada
juga pengaruh dari Sumatera
Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan.
Kabupaten
Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu.
Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu,
Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan
teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih
dapat ditemukan.
Sementara
masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak
dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi
Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian
dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya
ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat
badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang
dan dinding kayu yang beratap ilalang hanya memiliki satu
ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau
aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan
Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula
lumbung padi yang disebut Gampiri.
Buya
atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang
dan keraba-semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas.
Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan
Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan
baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung
sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala
yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi
pakaian adat.
Kesenian
Musik
dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang
satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrume seperti
suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai
hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah
beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional
- ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah
dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda
sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak
tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan
ketika festival.
Tari
masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal
dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan masyarakat Kulawi,
kabupaten
Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim
panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar
tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan
perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian
ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama
pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II.
Agama
Penduduk
Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat
72.36% penduduk memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama
Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu dan Budha. Islam disebarkan
di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karamah, seorang ulama dari
Sumatera
Barat dan diteruskan oleh Said ldrus Salim Aldjuri - seorang
guru pada sekolah Alkhairaat.
Agama
Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian
selatan Donggala oleh missioner Belanda A.C Cruyt dan Adrian.
lklim
Garis
khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi
Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda
dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim
hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September
sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata
curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per
tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.
Temperatur
berkisar antara 25 sampai 31° Celcius untuk dataran dan
pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di
daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celcius.
Flora
dan Fauna
Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas
pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu
sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet
tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi
yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung,
serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.
Hutan
Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu
agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh
pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna
merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi
flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka
alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali,
Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa
di Bangkiriang.
Dombu
Gunung Gawalise di barat kota Palu, kabupaten Donggala, berpotensi
sebagai obyek wisata alam dan budaya yang menarik. Gunung
Gawalise berjarak ± 34 kilometer dari Palu dan dapat
ditempuh oleh kendaraan roda empat dalam kurun waktu ± 1 jam 30 menit. Di gunung Gawalise terdapat desa Dombu yang
terletak di ketinggian dan berhawa sejuk. Desa lainnya adalah
desa Matantimali, desa Panasibaja, desa Bolobia dan desa Rondingo.
Desa-desa
ini didiami oleh suku Da'a. Suku Da'a merupakan sub-etnis
suku Kaili yang mendiami daerah pegunungan. Di desa-desa ini
dapat disaksikan atraksi sumpit yang diperagakan oleh warga
setempat. Rumah di atas pohon masih ditemukan di desa Dombu
sampai sekarang.
Di
Gunung Gawalise dapat dilakukan hiking/trekking dengan rute-rute
Wayu - Taipanggabe - Dombu - Wiyapore - Rondingo Kayumpia/Bolombia
- Uemanje dalam waktu kurang dari 1 minggu.
Taman
Nasional Lore Lindu
Taman
Nasional Lore Lindu merupakan salah satu lokasi perlindungan
hayati Sulawesi. Taman Nasional Lore Lindu terletak sekitar
60 kilometer selatan kota Palu. Luas Taman Nasional 217.991
hektar dengan ketinggian bervariasi antara 200 sampai dengan
2.610 meter diatas permukaan laut.
Taman
Nasional Lore Lindu memiliki fauna dan flora endemik Sulawesi
serta panorama alam yang menarik karena terletak di garis
Wallacea yang merupakan wilayah peralihan antara zona Asia
dan Australia.
Taman
Nasional Lore Lindu yang terletak di selatan kabupaten Donggala
dan bagian barat kabupaten Poso menjadi daerah tangkapan air
bagi 3 sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni sungai Lariang,
sungai Gumbasa dan sungai Palu.
Kawasan
Taman Nasional Lore Lindu merupakan habitat mamalia asli terbesar
di Sulawesi. Anoa, babi rusa, rusa, kera hantu, kera kakaktonkea,
kuskus marsupial dan binatang pemakan daging terbesar di Sulawesi,
civet Sulawesi hidup di taman ini. Taman Nasional Lore Lindu
juga memiliki paling sedikit 5 jenis bajing dan 31 dari 38
jenis tikusnya, termasuk jenis endemik.
Sedikitnya
ada 55 jenis kelelawar dan lebih dari 230 jenis burung, termasuk
maelo, 2 jenis enggang Sulawesi.yaitu julang
Sulawesi dan kengkareng Sulawesi. Burung enggang
benbuncak juga disebut rangkong atau burung allo menjadi
pengghuni Taman Nasional Lore Lindu.
Ribuan
serangga aneh dan cantik dapat dilihat di sekitar taman ini.
Layak diamati adalah kupu-kupu berwarna mencolok yang terbang
di sekitar taman maupun sepanjang jalan setapak dan aliran
sungai.
Patung-patung
megalit yang usianya mencapai ratusan bahkan ribuan tahun
tersebar di kawasan Taman Nasional Lore Lindu seperti Lembah
Napu, Besoa dan Bada. Patung-patung ini sebagai monumen batu
terbaik diantara patung-patung sejenis di Indonesia. Ada 5
klasifikasi patung berdasarkan bentuknya:
-
Patung-patung batu: patung-patung ini biasanya memiliki
ciri manusia, tetapi hanya kepala, bahu dan kelamin.
-
Kalamba:
ini adalah bentuk megalit yang banyak ditemukan dan menyerupai
jambangan besar. Mungkin ini adalah tempat persediaan
air, atau juga tempat menaruh mayat pada upacara penguburan.
-
Tutu'na:
ini adalah piringan-piringan dari batu, kemungkinan besar
penutup kalamba.
-
Batu
Dakon: batu-batu berbentuk rata sampai cembung yang menggambarkan
saluran-saluran, lubang-lubang tidak teratur dan lekukan-lekukan
lain.
-
Lain-lain:
mortar batu, tiang penyangga rumah dan beberapa bentuk
lain juga ditemukan.