|
Anoa
Tersius
Kuskus
Monyet
Hitam Sulawesi
Pagi
hari di kawasan hutan Danau
Lindu
Ular
Hijau Sulawesi
Katak
Pohon
Babi
Rusa
Kupu-Kupu
|
Alfred
Russel Wallace, seorang ahli entomolog (ilmu serangga)
bangsa Belanda mengadakan penelitian di Indonesia (dahulu
Hindia Belanda) pada tahun 1852 - 1862. Dalam bukunya
yang diterbitkan dari hasil penelitian itu The Malay
Archipelago 1889, ia membagi corak flora dan fauna
di kepulauan Nusantara dalam tiga bagian / wilayah.
Yaitu wilayah Barat meliputi Pulau Kalimantan, Pulau
Bali, Pulau Jawa, dan Pulau Sumatera yang disebut daerah
oriental; Wilayah Timur yang meliputi Pulau Papua dan
pulau-pulau di sekitarnya sebagai daerah Australia dan
Wilayah Tengah yang terletak antara bagian barat dan
timur tersebut disebut daerah Wallacea. Daerah
Wallacea ini meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku,
dan Kepulauan Nusa Tenggara.
Masing-masing
wilayah ini dipisahkan oleh garis khayal. Garis khayal
sebelah barat yang melintas dari selatan ke utara melalui
Selat Lombok dan Selat Makasar disebut garis Wallacea
dan garis batas di sebelah timur yang melintas di kawasan
sebelah timur Pulau Timor, terus ke utara melewati sebelah
timur Pulau Buru dan Pulau Halmahera disebut garis Weber.
Indonesia
di bagian barat, flora dan faunanya, mengambil corak
Benua Asia, sedangkan di bagian timur mengambil corak
benua Australia, sedangkan di bagian tengah mengambil
corak keduanya atau corak peralihan.
Di
Propinsi Sulawesi Tengah, seperti di daerah lainnya
di Pulau Sulawesi, terdapat tumbuh-tumbuhan dan binatang
yang bercorak Asia dan Australia.
Flora
Jenis tumbuh-tumbuhan di Sulawesi Tengah dapat dibagi
dalam dua bagian yaitu tumbuh-tumbuhan yang dibudidayakan
oleh penduduk dan tumbuhan-tumbuhan yang hidup di kawasan
hutan. Tumbuh-tumbuhan yang telah dibudidayakan antara
lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang kedelai,
tanaman hortikultura, tanaman perkebunan seperti kopi,
cengkeh, cokelat, jambu mete, kapu, dan sebagainya.
Di
kawasan hutan belantara tropis daerah ini, terdapat
berbagai jenis tumbuh-tumbuhan seperti kayu agathis,
kayu meranti, kayu bakau, kayu hitam (ebony), rotan,
palma, bambu, dan beraneka jenis anggrek hutan.
Dari
sekian banyak jenis kayu tersebut yang paling terkenal
dan banyak dibutuhkan di pasaran dunia adalah kayu hitam
(ebony). Kayu ini tergolong jenis barang mewah, tetapi
persediaannya sangat terbatas. Kawasan hutan kayu ebony
ini pun tidak seberapa luas, yaitu di wilayah Kabupaten
Donggala seluas 150.000 ha dan di wilayah Kabupaten
Poso 50.000 ha. Jenis anggrek hutan yang paling
terkenal dan khas dari daerah ini adalah jenis Anggrek
Putri Donggala. Anggrek ini terdapat di Kecamatan Kulawi,
Kabupaten Donggala.
Fauna
Alam binatang di Propinsi Sulawesi Tengah cukup beragam.
Binatang yang diternakkan penduduk antara lain sapi,
kuda, kambing, kerbau, dan ternak unggas. Di kawasan
hutan, dijumpai pula berbagai, jenis binatang liar,
seperti burung srigunting brons, burung gosong, burung
kakaktua, anoa, babi hutan, rusa, monyet, burung maleo,
dan lain-lain.
Untuk
melindungi kelestarian dari fauna dan flora ini, maka
Pemerintah telah menetapkan kawasan hutan suaka alam/margasatwa
dan kawasan taman nasional, antara lain;
- Taman
Nasional Lore Lindu
- Cagar
Alam Tanjung Api di Kabupaten Poso
- Taman
Hutan Raya Palu di Palu
- Cagar
Alam Morowali di Kabupaten Morowali
- Kawasan
Suaka Margasatwa Pulau Pinjan dan Tanjung Matop
- Suaka
Margasatwa Pati-Pati di Kabupaten Banggai
- Suaka
Margasatwa Dolangon di Toli-toli
- Suaka
Margasatwa Lombuyan di Kabupaten Banggai
- Cagar
Alam Laut Kepulauan Togian
- Suaka Marga Satwa Bangkiriang
Burung
Elang Sulawesi
Burung
Alo
Burung
Raja Udang
|