Minggu, 22 November 2009


   Sekilas Sulteng (18)
Pemerintahan
Penduduk, Tenga kerja & Transmigrasi
Sosial
Arti Lambang Daerah
Flora dan Fauna
Kondisi Geografi
Gubernur
Iklim
Kondisi Umum
Peta Wilayah
Peta Wisata
Sejarah Singkat
Seni Budaya
Visi Misi
Keuangan & Harga-harga
Hotel & Pariwisata
Lintasan Sejarah
Perhubungan & Komunikasi

   Potensi (22)
Pertanian
Ekspor Impor
Kehutanan
Perdagangan & Dolog
Minyak dan Gas
Perindagkop
Penanaman Modal
Perikanan
Industri
Perkebunan
Pertambangan
Pertanian
Kehutanan
Peternakan
Produk Ungulan
Pembinaan Usaha Perikanan
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
Perkembangan Produksi Perikanan
Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
Industri
Peternakan
Perkebunan

   Fasilitas (19)
Bank
Hotel di Kab. Banggai
Hotel di Kab. Bangkep
Hotel di Kab. Buol
Hotel di Kota Palu
Hotel di Kab. Parigi Moutong
Hotel di Kab. Poso
Hotel di Kab. Tolitoli
Sarana dan Fasilitas Ibadah
Telekomunikasi
Listrik & Tenaga Air
Olah Raga
Pasar
Pendidikan
Perhubungan
Rumah Sakit
Restaurant dan Rumah Makan
Biro Perjalanan
Listrik & Air Minum

   Pejabat (4)
Pelantikan Gubernur Dan Wakil Gubernur 2006-2011
Nama bupati & walikota
Nama-Nama Pejabat Dilingkungan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah
Anggota DPRD

   Organisasi (12)
Gubernur
Wakil Gubernur
Sekretaris Daerah
Asisten 1
Biro Keuangan
Asisten 2
Biro Informasi dan Komunikasi
Asisten 3
Biro Hukum dan Perundang-Undangan
Biro Pemerintahan
Biro Perlengkapan dan Umum
Biro Ekonomi dan Pembangunan

   Statistik (13)
Ekonomi Makro
Indek Harga Konsumen Bulan Februari 2005
Industri
Konsumsi dan Pengeluaran
Ekspor and Impor
Pariwisata
Kependudukan
Penanganan Pengungsi
Pertanian
Sosial
Tenaga Kerja
Transmigrasi
Tranportasi

   Investasi (4)
Investasi Asing
Investasi Dalam Negeri
Panduan Investasi
Strategi Kebijakan Investasi

   Kerajinan (5)
Kerajinan Rotan
Kerajinan Kelapa
Kerajinan Kerami & Bawang Goreng
Kerajinan Ebony
Kerajinan Tenun

 

Sosial
 
 
 
Versi Cetak Komentar (0) Email ke teman

Istilah sosial sebagai salah satu fenomena yang jika kita lihat dari sisi perkembangannya, merupakan fenomena yang berjalan lamban. Jika di bandingkan dengan kondisi fenomena yang lain seperti halnya perekonomian. Sebagai contoh sederhana perkembangan usia harapan hidup di Sulawesi Tengah jika kita bandingkan dengan pertumbuhan ekonominya, maka akan terasa sangat berbeda, contoh lain seperti kematian, kelahiran dan lainnya. Menelusuri hal tersebut akan menyangkut banyak faktor-faktor sosial yang saling berkaitan seperti pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Pada awal perkembangan suatu negara, fenomena sosial mendapat perhatian dengan porsi yang lebih kecil dibandingkan dengan perhatian terhadap fenomena ekonomi, namun sejalan dengan perkembangan dengan negara tersebut lama-kelamaan porso ini akan menjadi kian besar sebagai contoh pada negara-negara maju, perhatian terhadap hak asasi manusia sedemikian besarnya.

Dalam pembahasan fenomena-fenamena sosial di sini dipisahkan menjadi 6 sub bab yang terdiri dari:

  1. Pendidikan den Kebudayaan
  2. Kesehatan den Keluarga Berenwna
  3. Peradilan
  4. Agama
  5. Sosial Lainnya, can
  6. Perumahan
Pendidikan dan Pengajaran

Salah satu keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah apabila didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Proses peningkatan kualitas sumber daya manusia yang pada gilirannya akan merupakan Modal Investasi Manusia bagi kepentingan pembangunan daerah bahkan sampai lingkup Nasional. Pembangunan pendidikan yang masih menempati posisi penting dalam skala priontas ini akan terus ditingkatkan, program wajib belajar 9 tahun bagi pendidikan dasar terus digalakkan sehingga diharapkan seluruh anak-anak usia sekolah dapat memasuki jenjang pendidikan dasar.

Peningkatan sumber daya manusia sekarang ini lebih diutamakan dengan memberi kesempatan kepada penduduk usia sekolah serta luasnya wilayah yang harus dijangkau merupakan taktor yang cukup berpengaruh disamping faktor-faktor lainnya dalam menjalankan program-program pendidikan. Tersedianya data pendidikan yang baik akan sangat membantu perencanaan yang dibuat menjadi lebih terarah dan mencapai sasaran yang diinginkan.

Data pendidikan yang disajikan dalam publikasi ini adalah yang termasuk didalam lingkungan Depdiknas, dimana kurikulum yang digunakan adalah merujuk pada kurikulum yang telah ditetapkan oleh Depdiknas, sedangkan data pendidikan diluar lingkungan Depdiknas disajikan dalam publikasi lain yaitu Statistik Sosial.

Secara keseluruhan data pendidikan menggambarkan:

  1. Banyaknya Sekolah, murid dan guru untuk setiap Tingkat dan status Sekolah dapat dilihat mulai tabel 5.1.1 sampai 5.1.12
  2. Data Perguruan Tinggi yang dipisahkan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) disajikan dalam tabs 5.1.13 s/d 5.1.18
  3. Data penduduk 10 tahun ke atas menurut kemampuan membaca dan menulis, pendidikan tertinggi yang ditamatkan, angka partisipasi murnii tingkat SD, SLTP dan SLTA serta persentase penduduk 5 tahun keatas yang masih sekolah disajikan pada Tabel 5.1.19 s/d 5.1.22
  4. Kondisi gedung SD/SDMI dan SLTP/MTs pada Tabel 5.1.23 dan 5.1.24

Uraian Kondisi Pendidikan dan Pengajaran di Sulawesi Tengah:

  1. Pendidikan pra sekolah: Taman Kanak-Kanak (TK)

Taman kanak-kanak (TK) merupakan institusi pendidikan pra sekolah yang mendidik anak sebelum memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pada tahun ajaran 2005/2006 jumlah sekolah, jumlah guru dan jumlah murid yang terdaftar mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah sekolah TK pada tahun 2005/2006 sebanyak 824 buah, jumlah ini meningkat 120 buah atau 17,04 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 704 buah. Sementara jumlah guru dan murid TK pada tahun 2005 masing-inasing berjumlah 3.115 orang dan 30.088 orang, bila dibandingkan dengan tahun ajaran 2004/2005 maka jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 19,99 persen untuk jumlah guru dan 24,33 persen untuk murid.

Ratio murid TK terhadap guru sebesar pada tahun ajaran 2005/2006 mencapai 9 orang murid atau dengan kata lain setiap 1 orang guru menangani 9 orang murid TK.

  1. Pendidikan Dasar (SD)

Jumlah sekolah, murid dan guru Sekolah Dasar (SD) di lingkungan Dinas Pendidikan dan Pengajaran (SD Negeri, Inpres dan Swasta) salama periode 2001/2002-2005/2006 disajikan pada tabel 5.1.2 Jika diamati keberadaan gedung sekolah pada masing-masing Kabupaten/Kota maka jumlah gedung sekolah yang terbanyak berada di Kabupaten Donggala yaitu sebesar 550 buah atau 20,16 persen dari total gedung sekolah SD yang ada.

Rasio perbandingan murid dengan sekolah tahun 2005/2006 menunjukkan bahwa rata-rata murid untuk setiap SD terdapat 119 murid, sedangkan rasio murid terhadap guru sebesar 15 orang, yang berarti bahwa setiap seorang guru akan menangani sekitar 15 orang murid, dengan rata-rata guru setiap sekolah sebesar 8 orang.

  1. Pendidikan Menengah: SLTP, SMU & SMK

Jumlah gedung sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun ajaran 2005/2006 mengalami peningkatan jumlahnya. Bila dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya maka gedung sekolah SLTP pada tahun ajaran 2005/2006 mengalami peningkatan sebesar 26,66 persen atau dri 345 buah tahun ajaran 2004/2005 menjadi 437 buah.

Sementara itu jumlah guru pada tahun ajaran 2005/2006 mengalami peningkatan yang cukup berarti yaitu cari 6.002 orang pada tahun ajaran 2004/2005 menjad 8.522 orang pada tahun ajaran 2005/2006, atau meningkat sebesar 41,98 persen, dengan rata-rata guru per sekolah sebanyak 19 orang.

Jumlah siswa pada tahun ajaran 2005/2006 sebanyak 100.363 orang, angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang jumlahnya mencapai 75.137 orang atau terjadi peningkatan sebesar 33,57 persen atau bertambah 25.226 orang siswa.

Untuk sekolah menengah umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada periode 2005/2006 pertumbuhan jumlah gedung sekolah, jumlah murid dan jumlah guru sangat menggembirakan. Jumlah gedung Sekolah Menengah Umum (SMU) naik sebesar 35,39 persen atau dari 112 buah pada tahun ajaran 2004/2005 naik menjadi 155 buah pada tahun ajaran 2005/2006, sementara untuk gedung Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) naik sebesar 15,87 persen atau dari 63 buah pada tahun ajaran 2004/2005 naik menjadi 73 buah pada tahun ajaran 2005/2006.

Pada tahun ajaran 2005/2006 perkembangan jumlah siswa dan guru baik Sekolah Menengah Umum (SMU) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengalami peningkatan yang cukup berarti. Jumlah guru Sekolah Menengah Umum (SMU) meningkat sebesar 10,56 persen atau meningkat dari 2.575 orang pada tahun 2004/2005 menjadi 3.076 orang pada tahun ajaran 2005/2006, sementara itu untuk jumlah guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) meningkat sebesar 35,76 persen atau meningkat dari 1.166 orang guru pada tahun 2004/2005 menjadi 1.583 orang guru pada tahun 2005/2006.

Seperti halnya jumlah guru, siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada tahun ajaran 2005/2006 juga mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Untuk Sekolah Menengah Umum (SMU) mengalami peningkatan sebesar 15,75 persen atau meningkat dari 37.374 orang pada tahun ajaran 2004/2005 menjadi 43.261 orang pada tahun ajaran 2005/2006. Demikian pula Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengalami peningkatan sebesar 5,85 persen atau meningkat dari 13.594 orang pada tahun ajaran 2004/2005 menjadi 14.389 orang pada tahun ajaran 2005/2006.

  1. Pendidikan Tinggi

Pada jenjang pendidikan perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi negeri pertumbuhan jumlah mahasiswa baru kurang menggembirakan, hal ini terbukti dengan acanya penurunan jumlah mahasiswa baru pada tahun ajaran 2005/2006 sebesar 8,45 persen, atau dari 3.220 orang tahun 2004/2005 menjadi 2.948 orang pada tahun 2005/2006. Demikian pula jumlah alumni perguruan tinggi negeri baik program sarjana (S1) maupun diploma pada tahun ajaran 2005/2006 mengalami penurunan yaitu masing-masing sebesar 41,49 persen untuk program sarjana dan 47,57 persen untuk program diploma. Jadi secara keseluruhan jumlah mahasiswa perguruan tinggi negeri di Propinsi Sulawesi Tengah berjumlah 13.594 orang yang terciri dari 6.635 orang mahasiswa laki-laki dan 6.959 orang mahasiswan perempuam. Angka ini menurun sebesar 34,23 persen bila dibandingkan dengan jumlah tahun sebelumnya sebesar 20.668 orang.

Jumlah tenaga pengajar pada perguruan tinggi negeri di Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun ajaran 2005/2006 sebesar 1.690 orang yang terdiri dari dosen tetap 1.132 orang dan dosen tidak tetap sebanyak 558 orang. Bila dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya yang jumlahnya hanya 1.561 orang, maka tenaga pengajar pada perguruan tinggi negeri mengalami kenaikan sebesar 8,26 persen.

  1. Penduduk Berumur 10 Tahun Ke etas Yang Dapat Membaca den Menulis, Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan, Angka Partisipasi Murni dan Penduduk 5 Tahun ke Atas Yang Masih Sekolah.

Persentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang buta huruf pada tahun 2005 sebesar 5,46 persen, angka ini lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan angka tahun 2004 yang tercatat sekitar 5,05%, pada tingkat kabupaten persentasenya berkisar antara 1,84 - 8,67 persen. Persentase tertinggi yang buta huruf tercapat di Kabupaten Donggala yaitu sebesar 8,67 persen. Hal tersebut disebabkan masih tingginya persentase penduduk 10 tahun keatas yang tidak/belum pernah sekolah di kabupaten tersebut dibanding kabulpaten / kota lain yaitu mencapai 8,67 persen dan terendah adalah Kota Palu yaitu sebesar 1,84 persen. Secara umum kemampuan berbahasa Indonesia, membaca dan menulis huruf latin pada penduduk 10 tahun keatas, mulai tahun 2001-2005 relatif biak karena persentasenya cukup tinggi yaitu diatas 90 persen (Tabel 5.1.19).

Komposisi persentase pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk 10 tahun ke atas pada tiap kabupaten untuk tingkat pendidikan tamat SD berkisar antara 18,61-49,05 persen. Untuk Kota Palu pendidikan tertinggi yang ditamatkan relatif baik yaitu untuk tamatan SLTA 30,06 persen. Secara umum pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk 10 tahun ke atas di Sulawesi Tengah dari tahun 2000-2004 menunjukan adanya indikasi ke arah yang lebih baik dari tahun ke tahun (Tabel 5.1.20).

Angka partisipasi kasar di Propinsi Sulawesi Tengah tahun 2004 tertinggi dicapai pada tingkat Sekolah Dasar (SD) yaitu 96,05 persen atau pada kelompok umur 7-12 tahun, diikuti untuk tingkat SLTP sebesar 77,69 persen atau kelompok umur 13-15 tahun serta untuk tingkat SLTA atau kelompok umur 16-18 tahun relatif rendah yaitu 46,96 persen. Bila ditinjau dari masing-masing kabupaten/kota, maka Kota Palu Angka Partisipasi kasar untuk tingkat SLTP dan SLTA relatif lebih tinggi dibanding kabupaten lain yaitu masing-masing sekitar 87,16 persen dan 77,02 persen (Tabel 5.1.21).

Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB)

Pembangunan dibidang Kesehatan menjadi modal bagi peningkiatan klualitas masyarakat yang diharapkan dapat mengurangi jumlah kematian, meningkatkan usia harapan hidup, kesehatan reproduksi, mengurangi penderita penyakit, membudayakan hidup sehat. Juga bertujuan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Tujuan tersebut bisa dicapai bila sarana kesehatan telah merata sampai ke setiap kecamatan dan desa, disamping unsur tenaga medis/paramedis serta obat-obatan telah mencukupi pula.

Pembangunan Kesehatan di Sulawesi Tengah tetap berjalan hal ini dilandasi pada angka-angka yang menunjukkan peningkatan, namun sejauh mana peningkatan tersebut bergerak cepat dan sejauh mana peningkatan itu hanya berjalan lambat, masih harus terus dikaji, karena secara umum fenomena kesehatan di Sulawesi Tengah masih dianggap kurang dibandingkan peningkatan yang terjadi secara nasional.

Tenaga Kesehatan di Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2005 kembali mengalami peningkatan, baik dokter umum, dokter spesialis kecuali dokter gigi. Peningkatan tersebut tercatat masing-masing untuk dokter umum sebesar 55,48 persen atau dari 310 orang dokter tahun 2004 menjadi 482 orang tahun 2005, dokter spesialis meningkat sebesar 16,67 persen yaitu dari 54 orang tahun 2004 menjadi 63 orang tahun 2005, sementara untuk dokter gigi justru mengalami penurunan sebesar 20,83 persen atau dari 72 orang tahun 2004 menjadi 57 orang tahun 2005. Jadi secara keseluruhan tenaga dokter di Propinsi Sulawesi Tengah berjumlah 612 orang, jumlah ini meningkat sebesar 40,37 persen dari tahun 2004 yang jumlahnya baru mencapai 436 orang.

Keluarga Berencana, tetap aktif menjalankan programnya selama perlode 2001-2005 (tabel 5.2.8-12) yang ditandai dengan kecenderungan adanya tren yang menaik pada:

  1. Akseptor baru, seiring peningkatan pasangan usia subur (PUS)
  2. Peserta pengguna kontrasepsi pil, suntik, susuk dan IUD, dimana pil adalah kontrasepsi terbanyak digunakan oleh para PUS
  3. Sarana/tempat pelayanan kontrasepsi, mengalami peningkatan yang cukup tinggi terutama pada jumlah Sub PPKBD

Selama periode tahun 2001-2005 penolong kelahiran bayi masih di dominasi oleh dukun, bahkan untuk tahun 2005 peranannya semakin meningkat yaitu dari 34,49 persen menjadi 46,25, sementara persalinan yang ditolong oleh bidan semakin menurun yaitu dari 53,47 persen tahun 2004 menjadi 37,87 persen pada tahun 2005.

Peradilan

Hukum dan lembaga hukum/peradilan adalah bagian dari perangkat hukum yang dapat menjadi tiang pokok dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan negara, karena Indonesia adalah Negara Hukum yang bercita-cita menciptakan tertib hukum, dan pembangunan dibicang hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum, yang mengarah kepada hukum nasional untuk kepentingan nasional pula.

Untuk menegakkan hukum diperlukan jaminan-jaminan berupa perangkat perundang-undangan, kelembagaan, ketatalaksanaan dan personil peradilan, selain itu sistim koordinasi dan penyelesaian tugas antar instansi penegak hukum yaitu POLRI, Kejaksaan, Pengadilan dan Instansi Pemerintah yang terkait diperlukan penyempurnaannya.

Proses penyelenggaraan peradilan merupakan suatu care untuk mencari keadilan dalam suatu perkara dalam hal ini perlu diketahui.

  1. Tertuduh harus mendapatkan perlindungan hak azasi sehingga mendapat pembelaan yang wajar
  2. Jaksa sebagai Penuntut Umum bertanggung jawab dan harus melaksanakan Keputusan Pengadilan secara tertib
  3. Hakim mempunyai kebebasan dalam memutuskan perkara

Kebebasan yang dimaksud adalah bebas dari penganruh dan campur tangan dan orang, kelompok masyarakat ataupun pemerintah. Hal ini dilakukan antara lain dengan menertipkan fungsi yang didasari atas kerja sama yang baik serta sistim koordinasi dengan menserasikan tugas-tugas antara instansi dengan perangkat penegak hukum.

Banyaknya perkara yang masuk dan diselesaikan pada kejaksaan tinggi di Sulawesi Tengah selama periode 2001-2005 menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan hukum dan peradilan di Sulawesi Tengah, kenyataan ini ditandai dengan adanya pertumbuhan yang positif terhadap laporan yang masuk dan diselesaikan, namun disisi lain terjadi pula pertumbuhan positif terhadap perkara yang tidak terselesaikan dari tahun ke tahun, merupakan tantangan yang semakin tahun semakin berat dan semakin dibutuhkan keparipurnaan insan peradilan sebagai suatu tuntutan yang wajar dari masyarakat.

Agama

Agama sebagai salah satu unsur utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena pentingnya nilai agama dalam kehidupan ini, maka para pendiri republik tercinta ini memasukkan dasar agama dalam Pancasila yaitu sila pertama. Pancasila merupakan jiwa dan pandangan hidup bangsa dan sebagai alat pemersatu bangsa. Di Sulawesi Tengah suasana kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa senantiasa dibina, dikembangkan dan ditingkatkan sesuai dengan falsafah Negara Pancasila. Dalam menjalin kehidupan beragama Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah melalui Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tengah berusaha membangun suasana hidup yang rukun dan saling menghargai diantara Umat beragama yang diarahkan kepada peningkatan amal untuk kepentingan bersama dalam membangun masyarakat, sekaligus dapat mengatasi berbagai masalah sosial yang mungkin dapat menghambat kemajuan pembangunan itu sendiri.

Proporsi penduduk menurut agama yang dianut (dari tabel 5.4.1) di Sulawesi Tengah pada tahun 2005 adalah:

  1. Agama Islam = 78,49 persen
  2. Agama Kristen= 16,29 persen
  3. Agama Katolik = 1,47 persen
  4. Agama Hindu = 3,07 persen
  5. Agama Budha = 0,68 persen

Sosial Lainnya

Usaha kesejahteraan Sosial adalah suatu usaha yang dilaksanakan oleh Pemerintah bersama masyarakat untuk mewujudkan tata kehidupan dan penghidupan sosial, baik secara materil maupun spirituil. Usaha tersebut bertujuan demi mencapai kehidupan sosial yang makin baik khususnya bagi masyarakat golongan ekonomi lemah. Dalam mencapai tujuan di atas, usaha ini diarahkan:

  1. Menciptakan sekuritas sosial dikalangan masyarakat secara merata dan berkeadilan sosial
  2. Menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan usaha-usaha kesejahteraan sosial dari, untuk dan oleh masyarakat secara swadaya, melembaga dan berkesinambungan dengan mutu yang dapat dipertanggung jawabkan secara kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Menunjang dan melengkapi usaha pembangunan dibidang lainnya secara serasi dan seirama dalam rangka turut serta mewujudkan pembangunan

Pada bab ini disajikan data banyaknya penderita cacat menurut Kabupaten pada tahun 2001 s/d 2005 ditabel 5.5. dan tabel 5.5.4 disajikan pencerita cacat yang mencapat pelayanan Loka Bina Karya menurut Kabupaten. Sedang banyaknya komunitas adat terpencil yang belum diberdayakan disajikan pada tabel 5.5.5 dan 5.5.6. jumlah panti asuhan dan jumlah anak yang disantun.

Pada tabel 5.5.7 disajikan pula data anak terlantar penderita cacat, bekas hukuman, lansia dan wanita tuna susila yang mendapatkan santunan. Dalam tabel 5.5.8 disajikan kejadan bencana alam dan banyaknya korban bencana alam (tidak termasuk yang meninggal) dalam periode 2000-2004.

Pada bab ini juga menyajikan perkembangan batas miskin, jumlah dan persentase penduduk miskin tahun 2000-2004. Dampak mulai kondusifnya keamanan yang melanda negara kita ternyata sangat berpengaruh terhadap perkembangan jumlah penduduk miskin. Hal ini terjadi pula di Propinsi Sulawesi Tengah. Jika pada tahun 2002 jumlah penduduk miskin sebanyak 564,6 ribu orang (24,9%) dari total penduduk, dan pada tahun 2003 turun menjadi 509,1 ribu orang (23,04%) maka pada tahun 2004 menjadi 486.300 ribu jiwa.

Penurunan angka yang cukup tajam banyak disebabkan karena stabilnya harga sembilan bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat, yang secara langsung juga tercermin pada penurunan batas miskin yaitu jika pada tahun 2003 batas miskin untuk Sulawesi Tengah sebesar Rp. 117.284,- naik menjadi Rp. 124.133,- pada tahun 2004 (Tabel 5.6.14).

Perumahan

Sebagai salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia, rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung tetapi fungsinya sebagai tempat tinggal lebih menonjol. Karena itu aspek kesehatan dan kenyamanan dan bahkan estetika bagi sekelompok masyarakat tertentu sangat menentukan dalam pemilihan rumah tinggal. Secara umum, kualitas rumah tinggal ditentukan oleh kualitas bahan bangunan yang digunakan. Disamping itu kelengkapan fasilitas yang digunakan juga sangat menentukan kenyamanan rumah tinggal. Rumah nyaman adalah rumah yang luas, sehingga penghuni tidak berdesak-desakan. Fasilitas pokok yang panting agar suatu rumah menjadi nyaman dan sehat untuk ditinggal adalah tersedianya listrik, air bersih, jamban dengan tangki septik serta jarak ke tempat penampungan.

Berdasarkan hasil Susenas 2004 Sulawesi Tengah terdapat sebanyak 65,64 persen rumah tinggal beratapkan seng (Tabel 5.6.2). Sementara jenis lantai bukan tanah mempunyai persentase yang lebih tinggi yaitu 86,05 persen (Tabel 5.6.3). Dilibat dan luas lantai ada yang sangat menarik, yaitu pada tahun 2004 ternyata rumah tinggal dengan luas lantai di atas 150 m2, terbesar berada di Kota Palu yaitu 15,95 persen, tetapi di Kabupaten Banggai Kepulauan hanya 1,30 persen saja (Tabel 5.6.5).

Rumah tempat tinggal dengan sumber penerangan PLN di Sulawesi Tengah Tahun 2004 tercatat sebesar 60,76 persen, sementara yang masih menggunakan sumber penerangan pelita/sentir dan lainnya masih cukup tinggi yaitu mencapai 23,01 persen (Tabel 5.6.6).

Sumber air minum terbesar yang digunakan oleh rumah tangga di Sulawesi Tengah adalah sumur tak terlindung yakni sebesar 23,76 persen sedangkan yang terkecil adalah air dalam kemasan (Tabel 5.6.7).

Pada tahun 2004 di Kota Palu, rumah tinggal dengan tempat buang air besar leher angsa sebesar 93,64 persen. Angka ini merupakan yang terbesar dibandingkan daerah kabupaten lainnya, bahkan Kabupaten Morowali hanya 55,36 persen saja (Tabel 5.6.8). Yang perlu mendapatkan penataan kembali adalah jarak ke tempat penampungan tinja. Tabel 5.6.9 menunjukkan di Kota Palu rumah tinggal dengan jarak ke tempat penampungan tinja di bawah 10 meter masih cukup banyak yaitu ada 42,72 persen.

Diupdate Oleh: infokom, Sabtu 6 Januari 2007 (9496)
Versi Cetak Komentar Email ke teman
Sebelumnya

Komentar tentang Artikel ini:

Kirim Komentar tentang Artikel diatas:
Nama *
:
Email *
:
Lokasi *
:
Komentar *
656145 tulis kembali nomor disamping

 
     
 

 

 Home
 Buku Tamu
 Kabupaten
 Email
 Rubrik
 Download
 Agenda
 Tujuan Wisata
 Link
 Artikel Umum (142)
 Galery Foto (55)
 Info Mancing mania !! (6)
 Berita (376)
 Seni Budaya (11)
 Sekilas Sulteng (18)
 Potensi (22)
 Fasilitas (19)
 Pejabat (4)
 Organisasi (12)
 Statistik (13)
 Investasi (4)
 Kerajinan (5)

Jika ada kekurangan tentang situs ini, mohon masukan dari Anda, Trimakasih.

Nama

9065 tulis kembali angka diatas

Beritahu teman tentang situs ini:
Nama Anda
Email teman Anda
6447

Kritik dan saran mohon kirim ke info@infokom-sulteng.go.id.
Telpon: 0451-421811
Trimakasih atas kunjungan Anda.

 



Selamat datang di Situs Resmi Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Sulawesi Tengah.
Kritik dan saran, mohon kirim ke
: info@infokom-sulteng.go.id
www.infokom-sulteng.go.id (2004-2009)
Telpon : 0451-421811
Total Kunjungan: 3161435