Minggu, 22 November 2009
Upacara Tradisional
Suku Kaili

Suku Pamona

Suku Dampelas

Suku Kulawi

Permainan Tradisional

Alat Seni Tradisional

Alat Tari Tradisional

Budaya Sulawesi Tengah

 
Budaya
 

Mancumani

Versi Cetak Komentar (1) Email ke teman

Pengertian dan makna upacara mancumani adalah upacara keselamatan yang dilakukan atas selesainya ketiga upacara ratini (sunatan), rakeho (menggosok) gigi, dan ratompo (menanggalkan) gigi bagi perempuan. Atau dapat dikatakan bahwa upacara mancumani dilaksanakan sesudah segala pantangan dalam ketiga unsur upacara sudah diselenggarakan. mancumani dapat pula berarti pesta keselamatan antar kampung, di mana yang terlibat dalam upacara adalah para orang tua yang telah selesai melaksanakan upacara ratini, ratompo, ataupun rakeho. Jadi, menurut tradisi setempat dalam tahap-tahap penyelenggaraan upacara mempunyai sebutan khusus seperti mancumani noratini, mancumani ratompo, mancumani rakeho, mancumani nebolai (pesta perjodohan), dan mancumani pompatodui (pesta menginjak rumah mertua). Karena unsur upacara ratini, ratompo, dan rakeho dianggap satu dalam pelaksanaan mancumani, maka ketiganya digabung, dalam suatu pesta keselamatan yang sudah meliputi pelaksanaannya bersifat antar kampung.

Maksud Penyelenggaraan Upacara

Maksud penyelenggaraan upacara mancumani adalah sebagai rasa kegembiraan serta rasa syukur kepada Tuhan bahwa masing-masing yang diupacarakan dalam ketiga unsur upacara tersebut telah mendapat keselamatan dan kesehatan kembali setelah mengalami upacara yang cukup membahayakan dirinya. Selain daripada itu mancumani juga sifat keakraban yang dilambangkan dalam rasa gotong-royong di antara keluarga yang dituangkan dalam pesta mancumani tersebut. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pada saat mancumani paling sedikit ada 50 ekor kerbau yang dipotong dalam pesta ini. Kerbau sebanyak itu adalah sesuai banyak keluarga yang diupacarakan yang turut terlibat di dalamnya, yang masing-masing menyumbangkan kerbau. Jadi, dalam mancumani tidak terlihat perbedaan antara golongan bangsawan (maradika) dan orang kebanyakan (ntodea) karena merasa punya kepentingan yang sama dalam mancumani tersebut.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Waktu penyelenggaraan upacara mancumani adalah sama dengan upacara mopahivu yakni diadakan pada siang hari di mana waktu penyelenggaraan berdasarkan pada keadaan daripada yang diupacarakan, yaitu bila anak yang diupacarakan sudah sembuh dari sakit yang dialaminya.

Sebagai salah satu upacara puncak yang sangat besar artinya bagi tradisi masyarakat setempat, maka penentuan waktu penyelenggaraannya banyak ditentukan oleh kesempatan dan kemampuan masing-masing keluarga yang diupacarakan, sehingga sebagai ukuran waktu adalah berdasarkan pada saat selesainya panen mereka.

Penyelenggara Teknis Upacara

Dalam penyelenggaraan uipacara mancumani biasanya terdiri atas satu orang saja, yaitu tobalia (pemimpin upacara) dalam semua kegiatan dan orang-orang yang banyak berperan dalam masyarakat atau orang yang banyak mempunyai hubungan dengan roh-roh halus atau dewa ataupun menghubungkan manusia dengan roh halus.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Mengenai tempat penyelenggaraan mancumani berdasarkan hasil musyawarah antara keluarga yang diupacarakan dengan penyelenggara teknis upacara, yakni tobalia di mana diputuskan bahwa mengenai tempat penyelenggaraan upacara adalah dikaravana (lapangan) yang terbuka yang dapat disaksikan oleh orang banyak. Dasar pertimbangannya adalah karena pesta upacara adalah meliputi upacara antar kampung, di mana seturuh masyarakat dapat menyaksikan upacara tersebut.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Selain penyelenggara teknis upacara maka masib ada pihak lain yang juga terlibat dalam upacara ini antara lain topopolibuka (penterjemah) yang selalu mendampingi tobalia dalam upacara-upacara mancumani. Tugas utama topopolibuka adalah menterjemahkan kata-kata tobalia apabila sudah kemasukan roh halus. Apabila tobalia kemasukan roh halus menggunakan kata-kata (bahasa) yang tidak sama dengan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat setempat. Bahkan biasanya dengan isyarat tertentu, dengan gerakan-gerakan tangan, mata, atau raut muka, dan sehagainya.

Selain adanya unsur seni dan hiburan yang melibatkan topogima (pemukul tambur) dan topolento (pemukul gendang-) yang bertugas sebagai pengatur nada dari pemukul tambur. sedangkan orang yang memandikan yang diupacarakan adalah topejunu (memandikan). Selanjutnya yang turut sebagai saksi upacara (motiroi) adalah topotini, topetompo, topekeho, maradika (bangsawan), totua nungata (tua kampung), totua nuada (tua adat), dan seluruh keluarga yang diupacarakan.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Dalam upacara mancumani tidak jauh berbeda dengan upacara-upacara lainnya. Di mana persiapan dan perlengkapan tersebut masing-masing disiapkan oleh keluarga yang diupacarakan. Sebagai suatu puncak upacara menurut tradisi setempat setiap diadakan mancumani makin paling banyak bengga (kerbau) yang dipotong berkisar antara 30 - 50 ekor kerbau.

Di samping perlengkapan lain seperti dulang palangkah (dulang berkaki), kain mbesa, pakaian adat bagi yang diupacarakan, guna (tambur), lentoa (gendang) masing-masing tiga buah dan satu buah batang pisang yang akan di buat sebagai orang-orangan.

Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya

Sebelum upacara mancumani sampai pada saat yang telah ditentukan tiba, maka sebelumnya diadakan selama dua malam berturut-turut morego berupa seni dan hiburan di mana diperdengarkan lagu-lagu dengan irama khas serta diiringi bunyi tambur yang dipukul bertalu-talu oleh dua orang topogima (pemukul tambur) dan saling berganti irama yang dilakukan oleh satu orang topelento (pemukul gendang) sebagai pengatur nada. Dalam upacara rego mancumani ini diikuti pula alunan suara dari nyanyian pujian, kegembiraan yang dinyanyikan secara berbalas-balasan antara balailo (laki-laki) dan bangkele (perempuan). Rege mancumani yang dinyanyikan tersebut berisi mantera-mantera (gane) yang mengandung permintaan keselamatan dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi yang diupacarakan. Sesudah rego mancumani selama dua hari berturut-turut dilaksanakan, maka pada hari yang
terakhir rego mancumani ini diadakanlah upacara mancumani itu sendiri pada siang hari.

Sebelum mancumani berlangsung maka yang diupacarakan toratini (yang dikhitan), toratompo (yang ditanggalkan giginya), dan torakeho (yang digosok giginya) masing-masing dipakaikan pakaian adat secukupnya termasuk penyelenggara teknis upacara tobalia dan semua yang terlibat dalam upacara semua berpakaian adat selengkapnya. Tatkala yang diupacarakan masih berada di rumah dan belum dibawa ke karava (lapangan), maka di tempat upacara tersebut diadakanlah rego kembali dengan nyanyian-nyanyian pujaan yang dinyanyikan oleh peserta dari orang tua dan muda, dengan satu tarian (noenje) yang bergerak berputar mengelilingi tempat pusat upacara. Ketiga yang diupacarakan, penyelenggara teknis upacara, keluarga yang diupacarakan, dan para motiroi (saksi) sudah dalam keadaan siap, maka apabila dengan diikuti oleh
yang diupacarakan dan pengiring lainnya mulai melangkah menuju kerava (lapangan) upacara. Sesampainya di tempat upacara tobalia, yang diupacarakan sudah mengambil tempat di tengah lapangan dengan disaksikan oleh para yang hadir dan orang-orang lain yang cukup banyak jumlahnya menyaksikan jalannya upacara.

Sesudah tobalia dan yang diupacarakan sudah berada di tempat masing-masing, maka mulailah diadakan kembali nyanyian rego yang disertai noenje (tarian) secara berputar mengelilingi yang diupacarakan sebanyak 2 x 7 kali berputar. Sesudah putaran yang ke 14 kalinya, maka diadakanlah nkola (persembahan) yang dilakukan oleh tobalia diikuti yang diupacarakan.

Nkola dilaksanakan oleh tobalia serta yang diupacarakan, berjalan bersama ke tempat di mana kerbau itu ditambatkan dan orang-orangan dari batang pisang sudah disiapkan. Dengan memegang tono lampa (parang panjang), tobalia mulai nogane (membaca mantera) sebagai berikut:

"Sipura-puramo kita hi mantine he eno bengga, domo maria kita madua-dua, maka puramo buka madea rahi rasampamo bengga".

Artinya:

Semua kita ini turut menyaksikan pemotongan kerbau dan tidak ada lagi sakit-sakit, dan agar anak ini banyak rejeki, saya potonglah kerbau ini.

Selesai membacakan mantera, maka tobalia bersama yang diupacarakan menyerahkan tono lumpa tersebut kepada yang diupacarakan secara bergantian mantine bengga (melukai) leher kerbau dan bersamaan itu pula maka dipancunglah leher orang-orangan itu sampai terputus. Sesudah leher orang-orangan ini terpotong, maka kemudian ditetesi darah dari kerbau yang sudah dimantine. Selanjutnya kerbau yang sudah dipotong bagian lebernya sampai putus dari tubuhnya secara bersama-sama diletakkan di atas dulang palangka. Dulang palangka yang isinya terdiri atas kepala kerbau bersama kepala orang-orangan dari batang pisang tadi dibawa kembali ke tempat upacara bersama tobalia dan yang diupacarakan untuk diperkirakan sebagai bukti persembahan telah dilakukan. Persembahan ini mempunyai unsur kepercayaan dan pemujaan serta penghormatan kepada Tuhan (dewa) dalam berbagai bentuk, dan untuk berbagai maksud dan tujuan tertentu seperti untuk pengobatan dan untuk hiburan bagi para raja dahulu.

Setelah seluruh upacara mancumani selesai dilaksanakan, maka yang diupacarakan bersama tobalia serta yang menyaksikan kembali ke tempat semula sambil menunggu selesainya pemotongan semua kerbau yang sudah dipersiapkan. Setelah pemotongan hewan tersebut selesai, dagingnya dibagi-bagikan baik bagi tobalia, totua nungata, totua nuada, mardika maupun orang-orang yang terlibat dalam upacara tersebut. Dan selebihnya dimasak sebagai lauk-pauk yang kemudian nantinya akan disajikan dalam makan bersama di mana semua yang turut dalam pesta tersebut akan menikmatinya. Setelah makan bersama dilaksanakan, maka upacara mancumani ini pun dianggap selesai.

Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari

Upacara mancumani ini adalah suatu upacara tradisi yang sudah sedemikian lamanya berlaku di kalangan masyarakat pendukungnya. Tujuan utamanya adalah mencari keselamatan dan menghindarkan segala malapetaka. Tetapi karena proses upacara yang sudah dilakukan sebelumnya, sehingga seluruh pantangan yang ada sudah dihindari (ditaati), maka mancumani khusus mengenai pelaksanaan pesta keselamatannya saja. Dengan kata lain sebelum mancumani maka seluruh pantangan bagi yang diupacarakan sudah dihindari seluruhnya.

Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara

Unsur-unsur upacara mancumani melambangkan sifat magis sakral adalah kepala kerbau dan kepala orang-orangan dari batang pisang yang mempunyai makna sebagai persembahan atas keselamatan kepada Tuhan dan memberi kekuatan kepada orang yang diupacarakan. Pakaian adat adalah simbol rasa kebanggaan dan kegembiraan bagi yang diupacarakan.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

Diupdate Oleh: Thony Irawanto, Jum'at 27 Juli 2007 (9812)
Versi Cetak Komentar Email ke teman
Komentar tentang Artikel ini:

tejo, bandung 2009-05-12 16:32:47
mengapa setiap informasi yang yang dicantumkan gak ada cohtoh gambar....orang dari luar daearh kan pengin tau, jadi oooo kesenian itu kayak gituh mukin dia belum ampu tuk menyaksikanya langsung....alangkah baiknya memberikan gabaran pada khalayak umum..makasih tapi bagus lho webnya..

Kirim Komentar tentang Artikel diatas:
Nama *
:
Email *
:
Lokasi *
:
Komentar *
4146 tulis kembali angka disamping

 
     

 Home
 Buku Tamu
 Kabupaten
 Email
 Rubrik
 Download
 Agenda
 Tujuan Wisata
 Link
 Artikel Umum (142)
 Galery Foto (55)
 Info Mancing mania !! (6)
 Berita (376)
 Seni Budaya (11)
 Sekilas Sulteng (18)
 Potensi (22)
 Fasilitas (19)
 Pejabat (4)
 Organisasi (12)
 Statistik (13)
 Investasi (4)
 Kerajinan (5)

Jika ada kekurangan tentang situs ini, mohon masukan dari Anda, Trimakasih.

Nama

6883 tulis kembali angka diatas

Beritahu teman tentang situs ini:
Nama Anda
Email teman Anda
229

Kritik dan saran mohon kirim ke info@infokom-sulteng.go.id.
Telpon: 0451-421811
Trimakasih atas kunjungan Anda.

Permainan Tradisional

Alat Seni Tradisional

Alat Tari Tradisional

Budaya Sulawesi Tengah

 

 



Selamat datang di Situs Resmi Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Sulawesi Tengah.
Kritik dan saran, mohon kirim ke
: info@infokom-sulteng.go.id
www.infokom-sulteng.go.id (2004-2009)
Telpon : 0451-421811
Total Kunjungan: 3159691